Pelarian ku

Pelarian ku berawal dari kesalahan ku dalam memilih, banyak sekali pengandaian di kepala ku saat ini.

Seandainya aku tidak memilih dia, seandainya aku lebih pintar, seandainya aku lebih tahu, seandainya aku lebih bijak, seandainya aku mengikuti kata hati ku, seandainya aku menghadapi semuanya, dan masih banyak andaian lainnya.

Sekarang aku di sini, di tempat pelarian ku di kota orang yang tidak peduli akan kehadiran ku yang bahkan ada atau tidaknya diriku orang lain tak peduli. Di sini hanya ada aku awalnya, hingga aku bertemu orang-orang baik dan pelajaran yang tidak akan aku dapat di kota asal ku.

Pelarian ku berawal dari konflik perasaan, pacar pertama ku bukan seorang laki-laki yang baik pada umumnya aku tahu baik adalah relatif, tapi untuk ukuran lelaki yang bicara sembarang, kasar, dan kurang menghargai perempuan ku rasa itu bukan definisi lelaki baik. Karena aku telah memilih pacar pertama ku dia (ah iya, sebut saja Rael), banyak hal baik di diri Rael tapi untuk beberapa perlakuan seperti perkataan, sikap terhadap orang tua atau sebaya, dan cara menghargai perempuan, ya banyak hal tidak baik juga di dirinya. Aku yang belum pernah pacaran hingga usia 21 tahun memilih Rael untuk jadi pacar pertama ku dengan harapan yang kurasa berlebihan, hingga akhirnya aku sadar aku pantas mendapat seseorang yang lebih baik dari Rael. Selesainya hubungan ku dengan Rael, bersamaan dengan kelulusan sekolah sarjana ku.

Di saat aku sedih mengenai perasaan ku, Ayah ku berkata akan lanjut membiayai sekolah S2 ku dan beliau minta untuk di luar kota. Aku merasa itulah jawabannya, aku harus pergi, lari dan menjauh dari kota ku. Aku muak dengan Rael, terlebih aku muak pada kota ku yang menjadi saksi bisu antar aku dan Rael. Aku pergi lari dari kota ku, dari Rael dan dari diriku di masa itu, aku akan menjalani hidup baru, melangkah di kota baru mengukir kenangan yang baru dengan orang-orang baru yang akan aku temui di sana.

Sesampainya di kota ini, kenangan itu ternyata tetap ada tetap menghantui sejauh mana pun aku melangkah, sesibuk apapun aku belajar, sebanyak apa pun aku bertemu dengan orang baru, Rael tetap menjadi kenangan dalam diriku. Aku tahu melanjutkan sekolah bukan untuk siapa-siapa selain diriku, tapi karena di awali dengan niat mendasar ku yaitu lari, aku merasa semua ini sia-sia, aku hanya merasa hampa, memang aku mendapat pengalaman baru, aku mendapat kenalan baru, aku mendapat pelajaran baru, aku mendapat kemewahan sekolah tinggi, tapi aku tetap merasa hampa.

Apa yang sebenarnya aku ingin adalah lari dan menghapus kenangan itu, tapi aku tidak bisa, aku merasa terjebak dalam diri ku sendiri. Aku hanya ingin lari, tapi ke mana? Ke mana lagi? Sekarang aku merasa lelah, aku merasa sia-sia, aku merasa hampa.

Aku ingin kembali, tapi tidak ada pilihan itu. Sekarang aku hanya ingin segera menyelesaikan semuanya dan pulang, tapi harus dengan gelar yang baru itu tidak mudah.

Tolong aku.

Hidup segan, mati tak mau.

Iklan

My Love Story I

Ketika ku kecil menurutku, aku hanya anak perempuan culun yang berusaha untuk ceria dan mempunyai banyak teman. Aku cenderung bermain dengan anak laki-laki karena, aku lebih tertarik main sepeda dan layangan dibanding main boneka aku lebih tertarik manjat pohon dan genteng dibanding main masak-masakan.

Beranjakku SMP, aku bertemu dengan sesosok teman laki-laki yang buatku lebih ceria dan nyaman ketika bersamanya. Sejak pertama kali ku masuk SMP, mulai dari masa orientasi dialah yang duduk di sampingku dan mengobrol dengan asyik. Kami terpisah ketika pembagian kelas, tapi kami tetap berteman walaupun tanpa memiliki no hp. Hingga saat di kelas 8 dia menitipkan salam untukku lewat teman sekelas, dan mengajakku bertemu di lapangan basket sekolah dekat kantin sehabis sekolah.

Teman sekelasku lantas meledek, bilang aku akan ditembak sama dia. Karena aku tak tau apa-apa, dan aku cenderung cuek aku mengabaikannya. Selesainya kelas terakhir, aku seperti biasa langsung menuju gerbang sekolah untuk langsung pulang. Tapi teman sekelasku, mengingatkan untuk ke lapangan basket dulu tapi aku abaikan. Tanpa sepengetahuanku, ternyata dia sudah menungguku di luar kelas lantas mengikutiku menuju gerbang sekolah.

Sadar aku diikuti, aku merasa takut mungkin untuk sebagian orang hal itu biasa atau mungkin suatu hal yang manis. Tapi buatku saat itu, aku tidak suka dan tidak mengerti. Lantas aku menjauh darinya, kebetulan sekolahku memiliki bus antar-jemput tapi sesekali disewa oleh anak-anak yang ingin pergi sekelas ke museum atau kolam renang (saat itu sekolahku belum ada kolam renang sendiri).

Tau bus sekolah belum berangkat, aku langsung buru-buru naik bus itu. Ternyata bus sekolah sedang disewa untuk mengantar anak-anak kelas 7 ke kolam renang untuk ambil nilai olahraga. Lalu aku langsung turun dari bus sebelum bus berangkat ke tujuan yang ternyata tidak searah denganku. Tapi, ternyata usahaku menghindarinya tidak mempan. Dia melihatku naik bus sekolah dan dia menungguku tepat di depan pintu bus.

Ketika aku turun dari bus, aku langsung berhadapan dengannya dan dengan menatapku mantap dia bilang “Ninda kamu mau gak jadi pacar aku?” kalimat yang membuatku reflek bilang “nggak !” setelah menjawabnya aku langsung pergi tanpa menoleh, tapi dia malah tetap mengikutiku dari belakang sambil bilang “yaudah, gak usah malu”.

Kalo dipikir-pikir lucu banget yaaa XD

Keesokan harinya, teman sekelasnya menyapa ku dan memberi selamat ketika bertemu di kantin. Aku yang merasa tidak tau apa-apa hanya menatapnya bingung. Lalu temannya berkata “kamu udah pacaran kan sama si A..ng?” dengan masih menatap bingung aku hanya jawab “enggak kok” dan dari jarak 3 meter aku melihatnya menatap ku.

Tidak hanya itu, keesokan harinya setelah jam istirahat karena terlalu lama mengantri aku sedikit terlambat masuk kelas. Lucunya, dia dan teman-teman sekelasnya di depan kelas seperti menungguku lalu (ohiya, kelasku dan dia sampingan. Jadi aku harus lewat kelasnya dulu) dia menghampiriku, tapi aku langsung lari dan tak mau dengar apa-apa darinya.

Yah hanya seperti itu, kisah awal cintaku 😀

Sebenarnya aku dan dia bertemu lagi di SMK dan kami sekelas, agak lucu sih karena tiba-tiba bisa bertemu lagi dan satu kelas. Tapi kita tidak dekat seperti masa orientasi SMP lagi, hanya seperti teman sekelas biasa yang tidak dekat, yah biasa aja. Sebenarnya, aku mau minta maaf karena cara menolakku yang menurutku tidak sopan, tapi yah toh sudah berlalu. Aku sempat bersapa dengannya lewat fb, yah tapi hanya sebatas itu.

a

Hal Yang Dirindukan Ketika Di Rumah

Saat ini aku melanjutkan studi s2 ku di salah satu Universitas DI Yogyakarta, setelah lulus s1 sebenarnya aku sudah mulai bekerja, walaupun pekerjaan saat itu tidak sesuai dengan latar belakangku, namun aku tetap menjalankannya karena ingin mendapatkan pengalaman bekerja.

Aku memiliki adik yang berjarak 2 tahun di bawahku, adikku seorang perempuan dan kami berbagi kamar dari kecil hingga kami sudah kuliah. Kamar kami luas, dan karena sejak kecil sudah sekamar kami jadi terbiasa dan tetap berbagi kamar hingga besar.

Aku punya kebiasaan, mudah sekali terlelap bahkan ketika di motor pun aku bisa tertidur (karena sebagian orang bisa menahan kantuknya), karena kebiasaanku ini tidak sekali aku terbawa angkutan hingga melewati tujuanku. Begitupun sampai di rumah, ketika aku benar-benar kelelahan dan langsung merebahkan diri ke kasur, aku bisa dengan posisi yang sama hingga pagi.

Karena kebiasaanku yang seperti itu, adikku yang selalu mengingatkanku untuk ganti baju dan bersih-bersih seperti cuci muka dan gosok gigi terlebih dulu, lanjut melanjutkan tidur. Tidak hanya itu, ketika aku sudah bersihpun aku sering lupa untuk membuka ikatan rambutku, mematikan lampu dan memakai selimut, dan adikku yang selalu membenahi tidurku. Membukakan kuncir rambutku, mematikan lampu, menutup pintu dan menyelimutiku.

Saat ini aku tinggal sendiri, di tempat baru dan pertama kalinya aku hidup jauh dari rumah, jauh dari orang tua ku, jauh dari adikku. Setiap persaudaraan pasti pernah bertengkar dan ya sama sepertiku dan adikku, bahkan pertengkaran kami sangat sering dan hal yang sangat sepele, tapi aku merindukannya.

Aku rindu bertengkar dengannya, aku rindu dengan semua ritualnya ketika aku sudah terlelap. di sini, tak ada yang memberi perlakuan seperti itu atau bahkan tak ada yang peduli apakah aku memakai selimut? Apakah aku sudah mengunci pintu dan mematikan lampu?

Aku selalu percaya benci adalah bagian dari cinta, sebenci-bencinya aku pada adikku tapi aku sayang padanya. Sangat. Dan saat ini aku merindukannya.

KONFLIK DI JAKARTA PADA TAHUN 1998

PENDAHULUAN

 1.1 Kata Pengantar

Konflik yang terjadi di Indonesia pada 1998 tidak hanya terjadi di Ibukota, tapi juga di kota besar lainnya, seperti Surabaya, Solo, Medan, Lampung dan lainnya. Saya mengambil topic ini khususnya yang di Jakarta, karena hingga saat ini setelah 18 tahun terlewati, belum juga ada ketetapan oleh hukum di Indonesia.

Karena sudah menjadi rahasia umum, konflik yang terjadi pada 1998 tidak hanya merugikan satu-dua pihak tapi sebagai salah satu catatan kelam sejarah Indonesia. Saya mengambil lokasi di Jakarta, agar lebih terfokus dan tidak terlalu melebarnya pembahasan.

1.2 Latar Belakang

Konflik yang terjadi di Indonesia pada Mei 1998 atau kita dapat menyebutnya Tragedi Mei 1998, diawali dengan krisis moneter yang melanda Asia. Namun tidak hanya itu praktik Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN) yang merajalela di Indonesia juga menjadi salah satu penyebab terjadinya Tragedi 1998.

Selain dua alasan di atas, banyak juga pendapat yang beredar dan dipercayai oleh masyarakat. Tidak hanya pendapat, pada akhirnya masyarakat dan mahasiswa pun membentuk komunitas untuk saling menguatkan sebagai korban atau keluarga/kerabat korban yang bertujuan untuk mengenang dan menuntut kejelasan atas Tragedi Mei 1998.

1.3 Rumusan Masalah

Pada tulisan ini, saya ingin mengetahui sejauh mana pendapat yang beredar dan dipercaya oleh masyarakat juga pemerintah, dan sampai mana penanganan/penyelidikan yang dilakukan oleh pemerintah. Karena menurut saya Tragedi Mei 1998 masih perlu diselidiki dan ungkap sepahit apapun faktanya, agar masyarakat Indonesia dapat belajar dan semakin kaya akan sejarah Indonesia.

DESKRIPSI LOKASI DAN KONFLIK

 2.1 Lokasi

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa konflik yang terjadi di Indonesia pada 1998 terjadi disetiap kota besar, namun dalam tulisan ini agar lebih fokus dan tidak melebar maka hanya akan membahas konflik yang terjadi di Ibukota Indonesia, yaitu Jakarta. Tercatat kerusuhan di Jakarta bermula dibagian barat yang selanjutnya melebar hingga seluruh Ibukota.

2.2 Konflik

Kerusuhan di Jakarta yang bermula di bagian barat sebagai pemicu kerusuhan di seluruh bagian Jakarta, di Jakarta Barat tepatnya di Universitas Trisakti terjadi penembakan pada mahasiswa yang sedang melakukan demonstrasi. Setelah itu terjadilah kerusuhan massal yang diduga adanya provokator untuk melakukan tindak kekerasan seperti penjarahan, pembakaran toko, rumah, kendaraan umum/pribadi.

Demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa dari beberapa kampus di Jakarta ini merupakan kecaman untuk Presiden Soeharto yang kembali terpilih untuk ke-7 kalinya. Pasalnya pada saat itu harga-harga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang, dan tuntutan mundurnya Presiden Soeharto mendapat simpati dan dukungan dari rakyat.

Pola kerusuhan bervariasi, mulai dari yang bersifat spontan, lokal, sporadis, hingga yang terencana dan terorganisir. Para pelakunya pun beragam, mulai dari massa ikutan yang mula-mula pasif tetapi kemudian menjadi pelaku aktif kerusuhan, provokator, termasuk ditemukannya anggota aparat keamanan. Yang masih menjadi pertanyaan besar siapakah tokoh/kelompok/golongan yang menjadi provokator/pelaku kerusuhan yang memicu masyarakat untuk menjarah, membakar dan lain sebagainya. Padahal pada kesaksian yang didapat oleh TGPF banyak korban (yang mayoritas etnis cina) dlindungi oleh warga sekitar (“pribumi”).

Pada 23 Juli 1998 berdasarkan keputusan bersama menteri pertahanan keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Menteri Kehakiman, Menteri Dalam Negeri, Menteri Negara Peranan Wanita dan Jaksa Agung, membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dipimpin oleh Marzuki Darusman SH (Komnas HAM) dalam rangka menemukan dan mengungkap fakta, pelaku dan latar belakang peristiwa 13-15 Mei 1998.

TGPF terdiri dari unsur-unsur pemerintahan, Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia Indonesia (Komnas HAM), LSM, dan organisasi kemasyarakatan lainnya. TGPF melaksanakan tugasnya selama tiga bulan, yang berakhir pada 23 Oktober 1998. Penyelesaian tugas tim ini ditutup dengan Laporan Akhir TGPF yang merupakan dokumen faktual sebagai pertanggung jawaban TGPF.

Pada Laporan TGPF juga mencatat pola umum yang memulai kerusuhan dengan berkumpulnya massa pasif yang terdiri dari massa lokal dan massa pendatang (tak dikenal), kemudian muncul sekelompok provokator yang memancing massa dengan berbagai modus tindakan seperti membakar ban atau memancing perkelahian, meneriakkan yel-yel yang memanasi situasi, merusak rambu-rambu lalu lintas, dan sebagainya. Setelah itu, provokator mendorong massa untuk mulai melakukan pengrusakan barang dan bangunan, disusul dengan tindakan menjarah barang, dan di beberapa tempat diakhiri dengan membakar gedung atau barang-barang lain.1

Pelaku dari kerusuhan tersebut terdiri dari dua golongan, pertama masa pasif (massa pendatang), yang karena diprovokasi berubah menjadi massa aktif, dan kedua, provokator. Provokator umumnya bukan dari wilayah setempat, secara fisik tampak terlatih, sebagian memakai seragam sekolah seadanya (tidak lengkap), tidak ikut menjarah, dan segera meninggalkan lokasi setelah gedung atau barang terbakar.

Para provokator ini juga yang membawa dan menyiapkan sejumlah barang untuk keperluan merusak dan membakar, seperti jenis logam pendongkel, bahan bakar cair, kendaraan, bom molotov, dan sebagainya. Sedangkan banyak juga massa pasif lokal yang berkumpul hanya menonton sampai akhir kerusuhan, namun sebagian dari mereka menjadi korban kebakaran. Opini yang selama ini terbentuk adalah bahwa mereka yang meninggal akibat kesalahannya sendiri, padahal ditemukan banyak orang meninggal bukan karena kesalahannya sendiri.

Kerusuhan yang terjadi tidak hanya melibatkan fasilitas umum, kendaraan dan lain sebagainya, namun ada juga tidak kekerasan seksual pada wanita, namun adanya kesimpangsiuran di masyarakat tentang ada tidaknya serta jumlah korban perkosaan timbul dari pendekatan yang didasarkan kepada hukum positif yang mensyaratkan adanya laporan korban, ada/tidaknya tanda-tanda persetubuhan dan atau tanda-tanda kekerasan serta saksi dan petunjuk. Namun disisi lain, keadaan traumatis, rasa takut yang mendalam serta aib yang dialami oleh korban dan keluarganya, membuat mereka tidak dapat mengungkapkan segala hal yang mereka alami.

Laporan TGPF mencatat adanya kesimpangsiuran penerapan perintah dari masing-masing satuan pelaksana, begitu juga perbedaan persepsi tentang adanya vakum kehadiran aparat keamanan dimungkinkan karena:

  1. Adanya kelemahan komando dan pengendalian yang berakibat pada ketidaksamaan, ketidakjelasan/kesimpangsiuran perintah yang diterima oleh satuan/pasukan di lapangan.
  2. Pemilihan penetapan prioritas penempatan pasukan pengaman sentra-sentra ekonomi dan perdagangan yang tidak memadai untuk dapat segara meredakan keadaan telah menyebabkan banyak korban, bertalian dngan kondisi keterbatasan pasukan di wilayah Jakarta serta dihadapkan dengan ekskalasi kerusuhan yang tidak mampu diantisipasi.
  3. Komunikasi antar pasukan pengamanan tidak lancar yang disebabkan oleh keanekaragaman spesifikasi alat-alat komunikasi yang digunakan, yang semakin dipersulit oleh banyaknya gedung bertingkat tinggi.

Sesuai dengan doktrin ABRI rakyat bukanlah musuh, sehingga secara hukum aparat keamanan tidak boleh mengambil tindakan berupa penembakan terhadap rakyat/masyarakat. Secara psikologi aparat keamanan menghadapi dilema untuk mengambil tindakan efektif oleh karena banyaknya anggota masyarakat dan adanya pasukan lain yang berada di sekitar lokasi.

Adanya perbedaan pola tindak dan bentrokan di lapangan, yang mencerminkan kondisi kurangnya koordinasi dan saling kepercayaan akan tugas untuk menghadapi tekanan arus massa yang besar.

Hingga saat ini terhitung sudah hampir 19 tahun lamanya tragedi Mei 1998, keluarga korban tetap tidak mendapat kepastian atas tuntutan mereka. Masyarakatpun seperti dibiarkan dengan kesimpulan sesat bahwa tragedi Mei 1998 adalah tumbal reformasi. Sebuah kehendak bersama rakyat untuk menumbangkan Orde Baru.

Walau begitu, saat wawancara (Kompas, 9/3/2017) Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu. Tidak hanya tragedi di Mei 1998 pelanggaran berat HAM di masa lalu juga meliputi kasus, Peristiwa 1965, Peristiwa 27 Juli 1996, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II, Peristiwa kerusuhan Mei 1998 dan penculikan aktivis pro-demokrasi 1997-1998.

FAKTOR PENYEBAB

3.1 Faktor yang Mendorong Konflik

Sebelum terjadinya kerusuhan ditahun 1998, terjadi beberapa kerusuhan di Indonesia seperti pada tahun 1965 yang melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang melakukan pembantaian/pemberontakan di Indonesia, dan pada saat itu keluarlah Surat Perintah Sebelas Maret (supersemar) yang menjadikan Soeharto penerus kepresidenan.

Pada masa pemerintahan Soeharto, atau disebut dengan Orde Baru pembangunan Indonesia sangatlah pesat, PKI-pun telah dibubarkan juga terdaftarnya kembali Indonesia di PBB. Namun masa pemerintahan Soeharto yang Otoriter membuat resah masyarakat khususnya dikalangan mahasiswa, karena merasa dibatasi.

Yang akhirnya menimbulkan kelompok-kelompok kontra Presiden Soeharto. Anggota-anggota dari kelompok kontra pemerintah ini banyak yang hilang/diasingkan oleh pemerintah. Begitupun media massa yang dibatasi dalam penyampaian beritanya.

Pada pemerintahan Orde Baru dinilai tidak mampu menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto selama 32 tahun, ternyata tidak konsisten dan konsekuen dalam melaksanakan cita-cita Orde Baru.

Pada awal kelahirannya tahun 1966, Orde Baru bertekad untuk menata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Namun dalam pelaksanaannya, pemerintahan Orde Baru banyak melakukan penyimpangan terhadap nilai-nilai Pancasila dan ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam UUD 1945 yang sangat merugikan rakyat kecil. Bahkan, Pancasila dan UUD 1945 hanya dijadikan legitimasi untuk mempertahankan kekuasaan.

Penyimpangan-penyimpangan itu melahirkan krisis multidimensional yang menjadi penyebab umum tragedi Mei 1998 yang melahirkan reformasi, sebagai berikut:

  1. Krisis Politik yang terjadi pada tahun 1998 merupakan puncak dari berbagai kebijakan politik pemerintahan Orde Baru. Berbagai kebijakan politik yang dikeluarkan pemerintahan Orde Baru selalu dengan alasan dalam kerangka pelaksanaan demokrasi Pancasila. Namun yang sebenarnya terjadi adalah dalam rangka mempertahankan kekuasaan Presiden Soeharto dan kroni-kroninya. Artinya, demokrasi yang dilaksanakan pemerintahan Orde Baru bukan demokrasi yang semestinya.
  2. Krisis Hukum dalam bidang hokum-pun, pemerintah melakukan intervensi. Artinya, kekuasaan peradilan harus dilaksanakan untuk melayani kepentingan para penguasa dan bukan untuk melayani masyarakat dengan penuh keadilan. Bahkan, hukum sering dijadikan alat pembenaran para penguasa. Kenyataan itu bertentangan dengan ketentuan pasa 24 UUD 1945 yang menyatakan bahwa kehakiman memiliki kekuasaan yang merdeka dan terlepas dari kekuasaan pemerintah (eksekutif).
  3. Krisis Ekonomi krisis moneter yang melanda negara-negara Asia Tenggara sejak Juli 1996 mempengaruhi perkembangan perekonomian Indonesia. Ternyata, ekonomi Indonesia tidak mampu menghadapi krisis global yang melanda dunia. Krisis ekonomi Indonesia diawali dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Pada bulan Maret 1998, nilai tukar rupiah terus melemah dan mencapai titik terendah, yaitu Rp 16,000.00 per-dollar dan kenaikkan harga pokok dan listrik yang ditetapkan oleh pemerintahan.
  4. Krisis Sosial, Krisis politik, hukum, dan ekonomi merupakan penyebab terjadinya krisis sosial. Pelaksanaan politik yang represif dan tidak demokratis menyebabkan terjadinya konflik politik maupun konflik antar etnis dan agama. Semua itu berakhir pada meletusnya berbagai kerusuhan di beberapa daerah.
  5. Krisis Kepercayaan, krisis multidimensional yang melanda bangsa Indonesia telah mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden Soeharto. Ketidak mampuan pemerintah dalam membangun kehidupan politik yang demokratis, menegakkan pelaksanaan hukum dan sistem peradilan, dan pelaksanaan pembangunan ekonomi yang berpihak kepada rakyat banyak telah melahirkan krisis kepercayaan.

3.2 Pemicu

Pada sore hari tanggal 12 Mei 1998 terjadi penembakan yang menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti yang sedang melakukan demonstrasi dan mendesak untuk melakukan demo di luar kampus. Hal ini menjadi pemicu awalnya kerusuhan besar di seluruh Ibukota.

Setelah penembakan terjadi, munculah provaktor-provokator yang mengadu-domba warga untuk melakukan tindak kekerasan. Sementara itu para mahasiswa tetap melakukan aksi di Ibukota, mendesak pengunduran diri Presiden Soeharto.

Melihat aksi-­aksi tersebut, akhirnya pada tanggal 19 Mei 1998, Harmoko sebagai pimpinan MPR/DPR mengeluarkan pernyataan berisi ‘anjuran agar Presiden Soeharto mengundurkan diri’. Pada tanggal 20 Mei 1998, Presiden Suharto mengundang tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk dimintai pertimbangan dalam rangka membentuk Dewan Reformasi yang akan diketuai oleh Presiden Soeharto.

Dan puncaknya, pada tanggal 21 Mei 1998, pukul 10.00 di Istana Negara, Presiden Soeharto meletakkan jabatannya sebagai Presiden RI di hadapan Ketua dan beberapa anggota Mahkamah Agung. Berdasarkan pasal 8 UUD 1945, kemudian Soeharto menyerahkan jabatannya kepada Wakil Presiden B.J. Habibie sebagai Presiden RI. Pada waktu itu juga B.J. Habibie dilantik menjadi Presiden RI oleh Ketua MA.

DAMPAK TRAGEDI MEI 1998 DI JAKARTA

 Adapun kerugian dan korban yang dialami pada tragedi Mei 1998 dengan kategori sebagai berikut:

  1. Kerugian Material, merupakan kerugian bangunan seperti toko, swalayan, rumah, mobil, motor, barang-barang lainnya yang dijarah dan/atau dibakar massa.
  2. Korban kehilangan pekerjaan, adalah orang-orang yang akibat ter/dibakarnya gedung atau tempat kerjanya membuat mereka kehilangan pekerjaan.
  3. Korban penganiayaan dan luka-luka, adalah orang-orang yang meninggal dunia dan luka-luka saat kerusuhan seperti penganiayaan, korban tembak dan kekerasan lainnya.
  4. Korban penculikan, adalah orang-orang yang diculik/hilang pada saat kerusuhan.

Karena sulitnya menemukan angka pasti dari jumlah korban dan kerugian dalam tragdei Mei 1998, berikut variasi laporan yang dirangkum dalam Laporan Akhir TGPF:

  • Data Tim Relewan 1190 orang akibat ter/dibakar, 27 orang akibat senjata/dan lainnya, 91 luka-luka.
  • Data Polda 451 orang meninggal, korban luka-luka tidak tercatat.
  • Data Kodam 463 orang meninggal termasuk aparat keamanan, 69 orang luka-luka.
  • Data Pemda DKI meninggal dunia 288 dan luka-luka 101.

 

  1. Kekerasan Seksual, Bentuk-bentuk kekerasan seksual yang ditemukan oleh TGPF pada tragedi 1998, dibagi kedalam beberapa kategori, yaitu perkosaan, perkosaan dengan penganiayaan, penyerangan seksual/penganiayaan dan pelecehan seksual. Sama hal-nya pada kategori sebelumnya sulit dipastikan jumlah korban akibat kekerasan seksual. Namun TGPF mencatat sebanyak 52 orang mengalami kekrasan seksual di Jakarta pada tragedi Mei 1998.

 Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Mariana Amiruddin menyatakan korban pemerkosaan saat Tragedi Mei 1998 masih memilih bungkam hingga kini. Mereka mengalami trauma luar biasa yang membuat mereka enggan bercerita kepada orang lain. “Mereka menyatakan agar jangan membicarakan kejadian itu lagi dengan mereka. Karena itu benar-benar mimpi buruk. Kalau mereka diminta cerita, pasti sedih lagi,” kata Mariana saat ditemui di kantor Komnas Perempuan, Jakarta, Senin (11/5). (Sumber: CNN Indonesia)

Lanjutkan membaca KONFLIK DI JAKARTA PADA TAHUN 1998

Transformasi Konflik Bukan Resolusi Konflik

Etnobudaya

Adi Prasetijo

Konsep ini dipopoulerkan oleh John Paul Lederach. Lederach  menggunakan terminologi  transformasi konflik pada tahun 1980’an, setelah mengalami pengalaman intensif  selama berada di Amerika tengah. Konsep ini muncul dari kekhawatiran dengan beberapa konsep sebelumnya yang menurutnya belum bisa menjawab permasalahan penyelesaian konflik secara paradigmatik. Ia  menemukan bahwa misalnya  konsep resolusi konflik membawa kecemasan tersendiri dengan bahaya kooptasi yang ditimbulkannya yaitu ke arah yang akan membawa kekakuan makna konflik dimana orang-orang akan   menjadikannya sebagai isu kepentingan dan legitimasi. Dan ini menurutnya tidak  jelas benar karena resolusi  konflik tidak sejalan dengan advocacy.  Resolusi konflik baginya tidak dapat mengantisipasi perubahan yang akan terjadi sebagai akibat dari resolusi konflik tersebut.

Lihat pos aslinya 660 kata lagi

CONTOH SOAL PRAKTIK SERTIFIKASI JUNIOR NETWORKING BPPTIK 2012

1. Petunjuk:

  1. Baca dan pelajari setiap langkah/instruksi dibawah ini dengan cermat sebelum melaksanakan praktek
  2. Kerjakan pekerjaan sesuai dengan urutan proses yang sudah ditetapkan
  3. Selama ujian berlangsung, alat komunikasi (HP dan sejenisnya), programmable kalkulator agar di non aktifkan.
  4. Tidak diperkenankan kepada sesama peserta ujian untuk bekerja sama, tukar menukar, pinjam-meminjam catatan maupun alat tulis selama ujian berlangsung.
  5. Selama waktu ujian, tidak di ijinkan untuk keluar ruangan ujian. Kecuali telah menyatakan selesai..!!!

Nilai Akhir = 0, bila terjadi pelanggaran yang dilakukan

2. Instruksi Kerja:

  1. Buka halaman baru (file) pada aplikasi/software yang telah ditentukan
  2. Simpanlah file tersebut dengan format: UJK_JNAP_030316_Nama Lengkap
  3. Buatlah Rancangan Jaringan seperti pada gambar di bawah ini menggunakan aplikasi Jaringan
  4. Berikan Alamat IP Address sesuai dengan kebutuhan rancangan jaringan

Ujilah rancangan jaringan yang sudah dibuat dengan paket data secara acak/random

 

Buatlah rancangan jaringan seperti dibawah ini :

SOAL – TIPE A

soal A

SOAL – TIPE B

soal A

SOAL – TIPE C

soal C

 

Nah, jadi ini tes sertifikasi praktik JNA (Junior Networking Administration). Silahkan dijajal hehee..

 

DESAIN DAN IMPLEMENTASI FIREWALL DAN QUALITY OF SERVICE (QoS) MENERAPKAN LAYER 7 FILTERING UNTUK PEMBATASAN AKSES PEER-TO-PEER

Mama Aisyah

DESAIN DAN IMPLEMENTASI FIREWALL DAN QUALITY OF SERVICE (QoS) MENERAPKAN LAYER 7 FILTERING UNTUK PEMBATASAN AKSES PEER-TO-PEER

R.A. Halimatussa’diyah S.T., M. Kom

radenayu.winda@gmail.com

Dosen Politeknik Negeri Sriwijaya

 

ABSTRAK

Dalam membangun suatu jaringan komputer, selain aspek keamanan, masalah trafik juga perlu mendapat perhatian yang serius, khususnya untuk penggunaan aplikasi-aplikasi peertopeer. Penelitian ini bertujuan mendesain dan mengimplementasikan firewall menggunakan beberapa tools layer 7 filtering yaitu L7-Filter dan IPP2P serta menganalisa sejauh mana keakuratan tools firewall layer 7 tersebut dalam membatasi akses peer-to-peer. Dari penelitian dan eksperimen yang dilakukan terhadap kinerja L7-Filter dan IPP2P dalam mengenali, memblok dan mengatur pemakaian bandwidth oleh akses peer-to-peer yang menggunakan protokol Bittorent (K-torrent), eDonkey (Emule) dan Gnutella (Shareaza dan Frostwire) didapatkan hasil bahwa L7-Filter mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam mengenali, memblok dan membatasi pemakaian akses peer-to-peer dibandingkan IPP2P. Hal ini dikarenakan L7-Filter dapat mengenali paket data dan memblok pemakaian…

Lihat pos aslinya 6.348 kata lagi